Pages

Kamis, 10 Februari 2011

Makalah Kelainan Anak

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam perjalanan hidup manusia , setelah melalui masa perkawinan memiliki anak yang sehat secara fisik dan psikologis menjadi harapan berikutnya. Namun tidak semua harapan manusia bisa menjadi kenyataan. Sebagian kecil orang tua memiliki anak yang sejak kecil telah memiliki kelainan. Kelainan bawaan samacam itu bisa terjadi karena selama masa kehamilan kondisi kesehatan ibu secara fisik dan atau psikologis kurang terjaga, sehingga mengganggu dan menghambat perkembangan janin dalam perut ibu. Penyebab lain seringkali juga tidak diketahui dengan pasti, sehingga terjadi diluar jangkauan kemampuan

manusia untuk mencegahnya.

Down Syndrom merupakan salah satu kelainan bawaan, yang terjadi karena ada kelainan kromosom pada saat kehamilan berlangsung. Selain terlihat dari penampilan fisik dengan ciri2 tertentu, juga disertai dengan keterbelakangan mental, dengan taraf mungkin berat, sedang atau ringan. Dengan keterbatasannya tersebut memang sulit diharapkan perkembangan yang normal/seperti anak yang lahir normal, walaupun berbagai upaya telah dilakukan. Perkembangan manusia sangat dipengaruhi oleh factor bawaan dan llingkungan. Faktor lingkungan berupa, stimulasi, bisa dalam bentuk nutrisi, dan perawatan; pengalaman dan latihan berupa pengajaran dan pendidikan yang diberikan di rumah, sekolah maupun masyarakat dalam arti yang lebih luas, akan membantu mengaktualisasikan potensi yang dimiliki sejak lahir. Sedangkan factor bawaan berupa potensi baik dalam bentuk ciri-ciri fisik, potensi kecerdasan yang akan menjadi batas dalam perkembangan manusia.


Dengan demikian dapat difahami bila potensi yang dibawa sejak lahir memang sudah terbatas , upaya yang dilakukan oleh lingkungan sekitar tidak akan pernah memberi hasil melebihi potensi yang dimiliki tersebut. Sebaliknya bila stimulasi dari lingkungan kurang diberikan potensi yang dibawa sejak lahir tidak akan teraktualisasi secara maksimal.

Dua hal ini perlu diketahui dan difahami oleh orang tua, khususnya yang memiliki anak berkelainan, karena mempunyai beberapa konsekuensi penting, yaitu :

  1. Bila anak berkelainan dituntut untuk berkembang sama dengan anak yang normal, padahal itu tidak mungkin , maka orang tua akan kecewa dan anak bisa stress.

  1. Bila orang tua menganggap anak berkelainan tidak bisa apa-apa dan tidak diberi stimulasi yang sesuai dengan kebutuhannya, maka perkembangannya tidak maksimal. Ini berarti mubazir.

Dengan kata lain bahwa anak yang berkelainan prilaku disebut juga anak luar biasa. Cenderung memiliki penyimpangan sedemikian rupa terutama dalam kelainan indra,fisik,kelainan prilaku,kelainan kecerdasan,kelainan komunikasi atau kelainan ganda (memiliki kelainan lebih dari satu).

Anak berkelainan tetap memerlukan stimulasi, tetapi perlu disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhannya, sehingga bila sekolahpun perlu sekolah khusus yang sesuai dengan keadaannya. Mengapa ? Bila anak berkelainan di sekolahkan di sekolah anak normal, berarti ia dituntut untuk melakukan tugas-tugas yang di atas kemampuannya, akibatnya akan sangat bermacam-macam dan yang pasti tidak positif.

B. Tujuan Penulisan Makalah

Berdasarkan latar belakang di atas,maka tujuan penulisan ini adalah:

1. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab kelainan anak.

2. Untuk menyikapi anak yang berkelainan dengan bijak.

Untuk selanjutnya, maka anak yang berkelainan prilaku ini kita sebut sebagai tuna grahita.

BAB II

ANAK BERKELAINAN PRILAKU

1. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KELAINAN ANAK

Pemberian sebutan anak berkelainan perilaku (tunalaras) didasarkan pada realita bahwa penderita kelainan perilaku mengalami problema intrapersonal dan/atau interpersonal secara ekstrim (Hallahan dan Kauffman, 1991) sehingga mereka mengalami kesulitan dalam menyelaraskan perilakunya dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.

Sesuai dengan amanat Undang-undang Pendidikan Nomor 20 Tahun 2003, “anak tunalaras berhak mendapatkan layanan pendidikan yang relevan dengan kebutuhannya”. Dengan harapan kelak anak tuna laras yang terdidik memiliki kemampuan bertindak baik atas kemauan sendiri, ulet mencapai prestasi, berpikir dan bertindak secara rasional, mampu mengendalikan diri, serta memiliki harga diri dan kepercayaan diri yang baik.

Mackie (1057) mengemukakan, bahwa anak yang dikategorikan kelainan penyesuaian perilaku sebagai bentuk kelaianan penyesuaian sosial adalah anak yang mempunyai tingkah laku tidak sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku di rumah, di sekolah dan di masyarakat lingkungannya.

Anak berkelianan perilaku (Tunalaras) menurut pengamatan saya sebagai guru sebenarnya ada di sekolah, meskipun demikian seringkali karena kita sedikit belajar mengenai psikologi sosial dan kurangnya pengetahuan guru tentang kelainan perilaku ini akibatnya sering terjadi perdebatan dalam menangani proses kelangsungan pendidikan.

Seringkali keputusan yang diambil tidak bijaksana. Terutama di sekolah-sekolah favorit. Anak berperilaku menyimpang biasanya langsung dikeluarkan dari sekolah. Mereka terpaksa pindah sekolah. Jika hal ini terjadi biasanya bukan mengurangi perilaku negative siswa namun terjadi sebaliknya. Setelah pindah sekolah bukannya berubah lebih baik melainkan semakin parah. Atau dapat disebuat derajat kelainan perilakunya semakin meningkat.

Namun adapula yang beruntung, sekolah masih mau mendidik siswa berkelainan perilaku. Ada pendampingan khusus dari guru BP (Bimbingan Konseling), guru dan Wali kelas dan hasilnya ada perubahan perilaku positif. Derajat kelainan perilakunya semakin menurun.

Ada berbagai faktor yang menyumbang terjadinya prilaku berkelainan bagi anak,
adapun faktor tersebut meliputi :


1. Heriditer

Sebagai ilustrasi :


Sepasang suami istri yang cukup bahagia dengan menunggu kelahiran anak pertamanya, kehamilan istrinya telah memasuki minggu ke 40. Setelah anaknya lahir betapa terkejutnya pasangan tersebut mendapatkan anak yang mengalami kelaian, dokter menyebutnya dengan down’s syndrome atau mongolism. Setelah mereka berkonsultasi dengan dokter ahli genetika maka diketahui bahwa pasangan suami istri tersebut memilki gen yang sama. Hal ini dimungkinkan masih adanya jalinan darah atau saudara dari pasangan suami istri tersebut. Adanya kesamaan gen pada pasangan suami istri memiliki resiko tinggi untuk melahirkan anak kelainan kromosome salah satunya adalah down’s syndrome atau mongolism, bagi anak down’s syndrome sering kelainanya adalah kelebihan kromosome pada pasangan kromosom ke-21 yang dikenal dengan trisome 21, dimana pada manusia terdapat 23 pasang kromosome.


Ilustrasi tersebut memaparkan bahwa faktor penyebab yang berdasarkan keturunan atau sering dikenal dengan genetik, yaitu kelainan kromosome. Pada kelompok faktor penyebab herediter masih ada kelianan bawaan non genetic, seperti kelainan pre- mature dan BBLR ( berat bayi lahir rendah) yaitu berat bayi lahir kurang dari 2500 gram, merupakan resiko terjadinya anak berkebutuhan khusus. Demikian juga usia ibu sewaktu hamil diatas 35 tahun memiliki resiko yang cukup tinggi untuk melahirkan.

2. Infeksi


Merupakan suatu penyebab dikarenakan adanya berbagai serangan penyakit infeksi yang dapat menyebabkan baik langsung maupun tidak langsung terjadinya kelainan seperti infeksi TORCH (toksoplasma, rubella, cytomegalo virus, herpes), polio, meningitis,dsb. Sebagai gambaran dapat dikemukakan sebagai berikut.


Ilustrasi:


Ada seorang ibu yang tengah hamil, dalam pemeriksaan dokter ternyata ibu tersebut mengidap virus teksoplasma maka oleh dokter dikatakan ibu tersebut memilliki resiko tinggi melahirkan anak berkebutuhan khusus. Dalam perjalanan kehamilan ibu tersebut sering mengalami resiko keguguran namun masih bias dipertahankan. Setelah memasuki masa kelahiran yaitu minggu ke-40 ternyata lahirlah bayi dengan resiko (DBR), artinya bayi yang akan dilahirkan tersebut memiliki resiko menjadi anak berkebutuhan khusus karena terinfeksi virus tokso, sedangkan virus tokso menyerang syaraf terutama syaraf pusat (otak) sehingga beresiko menjadi anak berkebutuhan khusus.

3. Keracunan


Ilustrasi:


Seorang ibu muda sering merasa pusing dan mual-mual, untuk menghilangkan rasa pusing sepeeti biasa ia mengkonsumsi obat sakit kepala yang dijual bebas di pasaran. Setelah sekian lama kira-kira 2 bulan rasa pusingnya juga tidak pernah mereda, maka ia memeriksakan dirinya ke dokter. Dari pemeriksaan ternyata ibu tadi dinyatakan telah hamil kira-kira 2 bulan. Setelah mengetahui kehamilanya maka dia berhati-hati dalam mengkonsumsi obat-obatan, pada usia kehamilanya yang ke-40 minggu ibu tadi melahirkan anaknya dengan normal. Setelah mengikuti perkembangan anaknya ternyata anak tersebut usia 2 tahun belum dapat berbicara . padahal berdasarkan perkembangan anak normal seharusnya anak tersebut sudah dapat berbicara 1 sampai 2 patah kata.

Anak tersebut mengalami keterlambatan wicara (delayed speech ).
Ilustrasi tersebut diatas merupakan gambaran salah satu penyebab lahirnya anak berkebutuhan khusus. Masih banyak jenis keracunan yang merupakan penyebab yang cukup banyak ditemukan karena seperti pola hidup masyarakat, keracunan dapat secara langsung pada anak , maupun melalui ibu hamil. Munculnya FAS (fetal alcohol syndrome ) adalah keracunan janin yang disebabkan ibu mengkonsumsi alkohol yang berlebihan, kebiasaan kaum ibu mengkonsumsi obat bebas tanpa pengawasan dokter merupakan potensi keracuan pada janin. Jenis makanan yang dikonsumsi bayi yang banyak mengandung zat-zat berbahaya merupakan salah satu penyebab. Adanya pulusi pada sarana kehiduoan terutama pada pencemaran udara dan iar, seperti peristiwa Bhopal dan chernobil sebagai gambaranya.

4. Trauma


Kejadian yang tidak terduga dan menimpa langsung pada anak seperti proses kelahiran yang sulit sehingga memerlukan pertolongan yang mengandung resiko tinggi atau kejadian saat kelahiran saluran pernafasan anak tersumbat sehingga menimbulkan kekurangan oksigen pada otak atau (asfeksia) terjadinya kecelakaaan yang menimpa organ tubuh anak terutama pada bagian kepala. Bencana alam seperti gempa bumi sering menyebabkan kejadia trauma.


Sebagai salah satu contoh, ada anak yang mengalami frakturv pada tulang belakang, yang akhirnya menyebabkan anak tersebut mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya secara permanen. Hal ini dimungkinkan karena adanya syaraf motoric angota gerak bawah anak tersebut yang mengalami kerusakan, karena pada sumsum tulang belakang (medulla spinalis). Merupakan pusat syaraf otonom dan motorik.

5. Kekurangan gizi


Masa tumbuh kembang sangat berpengaruh terhadap tingkat kecerdasan anak terutama pada dua tahun pertama kehidupan. Kekurangan gizi dapat terjadi adanya kelainan metabolisme maupun penyakit parasit pada anak seperti cacingan. Hal ini mengingat Indonesia merupakan daerah tropis yang banyak memunculkan atau tempat tumbuh kembangnya penyakit parasite dan juga karena kurangnya asupan makanan yang sesuai dengan kebutuhan anak pada masa tumbuh kembang. Hal ini didukung oleh kondisi penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan.
Jika dipandang dari sudut waktu terjadinya kelainan dapat dibagi menjadi :

a. Pre-natal

Terjadinya kelainan anak semasa dalam kandungan atau sebelum proses kelahiran. Misalnya seorang ibu yang tengah hamil muda >3bulan keracunan alkohol.

b. Peri- natal

Sering juga disebut natal waktu pada waktu terjadinya kelainan pada saat proses kelahiran dan menjelang serta sesaat setelah proses kelahiran.

c. Paska-natal
Terjdinya kelainan setelah anak dilahirkan sampai dengan sebelum usia perkembangan selesai (kurang lebih usia 18 tahun).

2. MENYIKAPI ANAK YANG BERKELAINAN

Sebagian kecil orang tua memiliki anak yang sejak kecil telah memiliki kelainan. Kelainan bawaan samacam itu bisa terjadi karena selama masa kehamilan kondisi kesehatan ibu secara fisik dan atau psikologis kurang terjaga, sehingga mengganggu dan menghambat perkembangan janin dalam perut ibu. Penyebab lain seringkali juga tidak diketahui dengan pasti, sehingga terjadi diluar jangkauan kemampuan manusia untuk mencegahnya.

Down Syndrom merupakan salah satu kelainan bawaan, yang terjadi karena ada kelainan kromosom pada saat kehamilan berlangsung. Selain terlihat dari penampilan fisik dengan ciri2 tertentu, juga disertai dengan keterbelakangan mental, dengan taraf mungkin berat, sedang atau ringan. Dengan keterbatasannya tersebut memang sulit diharapkan perkembangan yang normal/seperti anak yang lahir normal, walaupun berbagai upaya telah dilakukan. Perkembangan manusia sangat dipengaruhi oleh factor bawaan dan llingkungan. Faktor lingkungan berupa, stimulasi, bisa dalam bentuk nutrisi, dan perawatan; pengalaman dan latihan berupa pengajaran dan pendidikan yang diberikan di rumah, sekolah maupun masyarakat dalam arti yang lebih luas, akan membantu mengaktualisasikan potensi yang dimiliki sejak lahir. Sedangkan factor bawaan berupa potensi baik dalam bentuk ciri-ciri fisik, potensi kecerdasan yang akan menjadi batas dalam perkembangan manusia.

Dengan demikian dapat difahami bila potensi yang dibawa sejak lahir memang sudah terbatas , upaya yang dilakukan oleh lingkungan sekitar tidak akan pernah memberi hasil melebihi potensi yang dimiliki tersebut. Sebaliknya bila stimulasi dari lingkungan kurang diberikan potensi yang dibawa sejak lahir tidak akan teraktualisasi secara maksimal.

Dua hal ini perlu diketahui dan difahami oleh kita sebagai guru, karena mempunyai beberapa konsekuensi penting, yaitu :

1. Bila anak berkelainan dituntut untuk berkembang sama dengan anak yang normal, padahal itu tidak mungkin , maka anak bisa stress.

2. Bila kita menganggap anak berkelainan tidak bisa apa-apa dan tidak diberi stimulasi yang sesuai dengan kebutuhannya, maka perkembangannya tidak maksimal. Ini berarti mubazir.

Anak berkelainan tetap memerlukan stimulasi, tetapi perlu disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhannya, sehingga bila sekolahpun perlu sekolah khusus yang sesuai dengan keadaannya. Mengapa ? Bila anak berkelainan di sekolahkan di sekolah anak normal, berarti ia dituntut untuk melakukan tugas-tugas yang di atas kemampuannya, akibatnya akan sangat bermacam-macam dan yang pasti tidak positif. Beberapa akibat yang sering terjadi , yaitu :

1. Setelah bertahun-tahun sekolah di sekolah anak normal tidak ada atau sedikit sekali hasil yang diperoleh.

2. Seiring dengan bertambahnya usia tuntutan tersebut akan berdampak negatif pada perkembangan kepribadiannya, tampil dalam bentuk keluhan : mengganggu di kelas, mengalami kesulitan dalam bersosialisasi, karena rasa rendah diri, malu, takut, stress atau merasa tidak dimengerti.

3. Kehilangan waktu dan kesempatan yang tepat untuk mengembangkan hal-hal yang perlu dan masih dapat dikembangkan.

4. Orang tua kecewa dan anak menjadi stress, kondisi ini dapat memperburuk hubungan orang tua - anak bahkan mengganggu keharmonisan kehidupan keluarga.

Tentu saja berbagai akibat tersebut perlu dihindari dan dicegah, dengan cara a.l. :

1. Orang tua perlu bersikap, berpikir dan bertindak rasional, menerima kenyataan dengan ikhlas, yakinlah bahwa seseuatu yang terjadi pada kita ada hikmahnya. Tuhan pasti memberikan yang terbaik untuk kita.

2. Orang tua perlu mengenal keadaan anak secara baik, tahu persis batas-batas yang dimiliki anak dan hal-hal apa yang perlu dan masih dapat dikembangkan dari anak. Informasi ini bisa diperoleh melalui asesmen yang dilakukan oleh pakar yang punya kompetensi dan wewenang untuk melakukan asesmen tersebut.

3. Dengan pengetahuan tentang kelebihan dan kekurangan yang dimiliki anak, orang tua mencari dan melakukan upaya yang tepat sesuai dengan kebutuhan anak agar perkembangannya optimal.

4. Tentukan target dan rencana yang realistis sesuai dengan keadaan anak.

Sebaliknya hal-hal yang bisa menjadi kendala atau bahkan memperburuk keadaan anak, a.l. bila :

1. Orang tua tidak mau menerima kenyataan dan keadaan anak sebenarnya

2. orang tua menuntut anak di luar batas kemampuannya

3. orang tua tidak melakukan upaya yang tepat bagi anaknya

Untuk mencegah hal-hal dia atas, orang tuapun perlu melakukan upaya-upaya bagi dirinya , yaitu a.l.:

1. Lebih mendekatkan diri pada Tuhan dan meyakinkan diri bahwa Tuhan memberikan semua pada kita pasti dengan maksud dan hikmah yang dapat kita peroleh.

2. Tumbuhkan keikhlasan untuk menerima kenyataan ini dengan mencoba melihat dan mensyukuri betapa banyak kenikmatan yang telah kita peroleh. Dalam hidup ini memang tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapat.Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk kita.

3. Perluas wawasan pengetahuan tentang kelainan anak, agar dapat melakukan upaya yang tepat.

4. Tingkatkan kesabaran agar tidak menjadi emosi dan putus asa dalam mengajarkan sesuatu pada anak. Ikuti irama belajar anak yang berbeda dengan anak lain yang normal. Jangan menjadikan anak normal sebagai acuan.

5. Upayakan agar semua anngota keluarga bersatu dan saling mendukung dalam menghadapi keadaan ini serta melakukan upaya yang konsisten.

6. Yakinkan pemahaman bahwa anak adalah titipan Tuhan dan sebagai orang tua kita punya kewajiban untuk mengupayakan yang terbaik untuk anak kita.

Kelainan anak yang terjadi di sekolah normal biasanya tak separah dengan anak pada sekolah luar biasa, kelaianan yang sering kita temukan diantaranya kemampuan IQ yang kurang di banding dengan teman-teman yang lain. Untuk mengatasi hal tersebut guru harus lebih bijak dan memberikan perhatian lebih, terutama dalam membimbing proses belajar mengajar.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Anak yang berkelainan prilaku disebut juga anak luar biasa. Cenderung memiliki penyimpangan sedemikian rupa terutama dalam kelainan indra,fisik,kelainan prilaku,kelainan kecerdasan,kelainan komunikasi atau kelainan ganda (memiliki kelainan lebih dari satu). Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kelainan pada anak antara lain heriditer, infeksi, keracunan, trauma, kekurangan gizi, pre-natur dan lain-lain.

Sudah jelas anak yang mempunyai kelainan mempunyai banyak kekurangan-kekurangan jika di bandingkan dengan anak yang normal.Untuk menyikapi anak yang mempunyai kelainan tersebut kita sebagai orang tua (guru) harus memiliki sikap yang bijak mengarahkan anak dengan penuh kesabaran serta memberikan perhatian yang lebih terutama dalam membimbing proses belajar mengajar.

Anak berkelainan tetap memerlukan stimulasi, tetapi perlu disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhannya, sehingga bila sekolahpun perlu sekolah khusus yang sesuai dengan keadaannya. Mengapa ? Bila anak berkelainan di sekolahkan di sekolah anak normal, berarti ia dituntut untuk melakukan tugas-tugas yang di atas kemampuannya, akibatnya akan sangat bermacam-macam dan yang pasti tidak positif.

B. Saran

Kita sebagai guru hendaklah bisa memahami dan lebih sabar dalam menghadapi anak yang mempunyai kelainan prilaku, kita harus lebih bijak dan jika perlu kita bisa memperlakukannya secara khusus baik dalam proses belajar mengajar maupun di luar kegiatan belajar mengajar. Sehingga pada akhirnya anak tersebut tidak mengalami trauma dan merasa rendah diri.

DAFTAR PUSTAKA

Mulyani Sumantri, Nana Syaodih,2008, Perkembengan Peserta Didik,

Jakarta, Univwersitas Terbuka

http://pembelajarsmknikertosono.blogspot.com/2010/anak-berkelainan-prilaku-tunalaras-l.html, diakses 8 Pebruari 2011

http://priyes-buahhati.blogspot.com/2009/04/menyikapi-anak-berkelainan-dengan-bijak.html, diakses 8 Pebruari 2011

http://edusogem.blogspot.com/2010/10/faktor-penyebab-kelainan-anak.html, diakses 9 Pebruari 2011

0 komentar:

Poskan Komentar